innalillahi wainna ilaihi roji’un.. Semua milik Alloh SWT dan akan kembali pada-Nya….. Mudah mengatakannya, terutama saat kita tertimpa musibah. Dan mestinya tidak hanya kematian, tetapi musibah sekecil apa pun, meskipun hanya terkena duri atau tersandung dan klilipan batu di jalan :D. Namun demikian, ucapan itu mungkin hanya sebatas ucapan di lisan saja, tetapi mungkin sulit bagi kita untuk memahami maknanya apalagi menjalankannya. Bagaimana perwujudan sikap kita yang menunjukkan bahwa kita telah mengaplikasikan ayat ini …. ?
menurut saya hidup adalah mencari bekal untuk persiapan mati karena setiap yang hidup pasti akan mati itupun kita gak tau kapan, jadi selama kita hidup kita harus menjauhi laranganNYA dan Menjalankan PerintahNYA,.
klo ada istilah gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, jangan sampai kita manusia mati hanya meninggalkan Bangkai ( naudhubillah mindalik ) tapi matilah dengan meninggalakan manfaat baik bagi sesama dan alam sekitar karena hanya itulah bekal kita untuk kedepannya,.
Konon bila ada saudara kita menginginkan sesuatu barang yang kita miliki atau membutuhkan bantuan kita, maka sebaiknya kita berikan kepadanya. Bila kita ingin memberi sarung atau baju kepada sesama kita, tentu kita pilih yang paling bagus (atau baru) bukan yang bekas kita pakai walaupun masih kelihatan bagus. Selain itu, banyak pesan dari para ustadz dan ulama bahwa dalam rezeki yang kita dapatkan, ada hak dari sebagian rezeki itu untuk kita bagikan kepada orang lain. Jadi hak itu harus diberikan kepada sesama kita yang berhak.
Namun apa yang biasanya terjadi? Kita sangat susah untuk berbagi, berderma, berinfaq/sodaqoh. Kita merasa apa yang diraih itu adalah berkat usaha diri sendiri, berkat kehebatan kita sendiri. Jadi kita “berhak sombong” dan berhak memakainya untuk apa saja sekalipun itu untuk kepentingan diri sendiri. padahal saya pernah dengar klo surga itu haram hukumnya untuk orang orang yang di hatinya ada kesombongan wlo hanya sebiji kurma ( Hadistnya saya lupa hehehe maaf,tapi insya Allah shohih kok ) karena kita gak punya hak untuk sombong,kesombongan hanya milik Allah SWT.
Ada sahabat SD saya yang sangat ringan meminjamkan barang pribadi kepada teman-temannya termasuk saya padahal beliau adalah anak yang berlatar belakang dari keluarga yang (maaf) kurang mampu, tanpa pandang bulu siapa teman yang meminjamnya itu. Bahkan jika saya ledek , “ Bener nih boleh aku pinjem….? Ntar kalau hilang atau rusak gimana…?” Dia biasanya hanya menimpali, “Aku percaya kamu kok… Kalaupun hilang itu berarti Allah tidak memberi kepercayaan padaku untuk memilikinya….” jadi pengen nangis klo inget sahabat saya itu sungguh sosok yang luar biasa
saya sangat banyak belajar pada sahabat saya ini,. saya juga pernah berkeluh kesah pada sahabat saya ini klo saya capek di marahi bapak saya yang sangat galak, eh dia jawabnya gini " udah syukuri aja, itu karena bapak kmu sayang n berharap banyak ke kamu,di marahi bapak itu nikmat banget lo,. aku aja pengen ngerasain rasanya di marahin seorang bapak" karena beliau sejak bayi udah yatim, dan sekarang apa yang dia katakan itu sangat benar saya rasakan, saya sangat kangen n pengen di marahin bapak,. ya Allah jadi pengin mewek huhuhuhu,. :(
Terhadap teman yang seperti ini, saya dan teman-teman lain kok malah jadi sungkan ya. Malah jadi lebih menghargai dan berhati-hati (memegang teguh kepercayaan yg diberikan olehnya). Kita begitu karena kita yakin bahwa dia adalah salah satu insan yang disayang oleh Tuhan, karena telah meneladani sifat pengasih dan peyayang-Nya (Ar Rahman dan Ar Rahim).
Namun terkadang kita menjadi sangat sulit untuk berbagi. Tetangga yang mau pinjam kendaraan barang sekali saja sangat berat memenuhinya, bahkan sekalipun ketika untuk keperluan mengantar berobat istrinya. Apa lagi berbagi dalam hal rezeki. Misalnya membantu “memberi makan” tetangga yang susah makan saja berat, padahal kita tahu tetangga kita itu sangat kesulitan walaupun itu hanya untuk makan sehari-hari. Di lain pihak, di rumah kita malah justru bergelimangan makanan, lauk pauk tersaji beraneka ragam, begitupun buah, dan itupun banyak sisa-sisa makanan dipiring yang tidak habis termakan dan akhirnya terbuang di tempat sampah.
Saat kita kehilangan cinta (cinta bertepuk sebelah tangan / kebayang bayang mantan :D ). saat kita kehilangan posisi/jabatan. Saat kita disakiti/difitnah orang. Bahkan sekalipun itu adalah orang yang kita cintai bila akhirnya harus mendahului kita menghadap Sang Ilahi, itu berarti Allah mengambil kembali apa yang dipinjamkan/diamanatkan kepada kita. Rasulullah melarang kita untuk menangisi orang yang meninggal dengan meraung-raung, sedih berkepanjangan, atau malah menyalahkan pihak lain (bahkan Tuhan) atas kematian orang itu.
Semua itu tidak akan terjadi bila kita merasa bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Tuhan, semua kejadian aadalah atas izin Allah, semua kehendak Allah, dan niat kita untuk berbagi dengan sesama adalah dalam rangka untuk mencari simpati (ridha) dari Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Mungkin itulah sekelumit makna ucapan Innalillahi wainna ilaihi roji’un.. yang saya pahami.
Berikut ini ayat-ayat Tuhan tentang larangan untuk bersifat (sombong) kikir, dan perintah melakukan hal-hal baik yang kepada sesama kita. Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS 4: 36)
(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS 4: 37)
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran) QS 9 : 76
Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung QS: 59:9
saya menulis dan mengutip ayat ini di tujukan untuk masyarakat yang sedang berduka karena kehilangan seorang Ustadz.Jeffry Al Buchori ( termasuk saya ) semoga segala amal ibadahnya di terima ALLAH SWT semoga di beri kekuatan iman dan islam bagi yang di tinggalkan terutama buat keluarga dan jamaah ust Jeffry. AMIIIIIN
*maaf bila ada tulisan saya yang salah n rancu wkwkwkwkwk,.
kesempurnaan hanya milik ALLAH dan saya adalah tempat kesalahan n kekurangan ( kayak closingnya Dorce G wkwkwkwkwkwk,... )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar